Memberitakan Injil merupakan panggilan setiap orang percaya untuk menjadi saksi Kristus. Namun, dalam melaksanakan panggilan tersebut, kita pasti akan menghadapi rasa takut, malu, keraguan, bahkan penolakan dari orang lain.
Karena itu, kita perlu belajar dari para rasul dalam Kisah Para Rasul 4:29–31. Ketika mereka akan menghadapi ancaman karena memberitakan Yesus, para murid tidak meminta agar masalah mereka dihilangkan. Mereka justru berdoa supaya Tuhan memberikan keberanian untuk tetap memberitakan firman-Nya. Setelah mereka berdoa, mereka dipenuhi Roh Kudus dan memberitakan firman Allah dengan berani.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa keberanian dalam memberitakan Injil berasal dari Tuhan dan pertolongan Roh Kudus, bukan semata-mata dari kemampuan manusia. Ketika merasa takut atau tidak mampu, kita harus datang kepada Tuhan dalam doa dan meminta kekuatan serta hikmat-Nya.
Memberitakan Injil juga tidak selalu harus dilakukan di depan banyak orang. Kita dapat memulainya melalui hal-hal sederhana, seperti menceritakan kebaikan Tuhan, memberikan penguatan melalui firman, mendoakan orang lain, serta menunjukkan kasih Kristus melalui tindakan. Kehidupan yang penuh kasih, kejujuran, kesabaran, pengampunan, dan kepedulian juga menjadi kesaksian tentang Kristus.
Jangan biarkan rasa takut menghentikan panggilan kita untuk memberitakan Injil. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, tetapi tetap melakukan kehendak Tuhan meskipun merasa takut. Dengan pertolongan Roh Kudus, setiap orang percaya dapat menjadi saksi Kristus melalui perkataan, tindakan, kasih, dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, mari hilangkan rasa takut dari dalam diri kita, dan tanamkan iman kepercayaan yang kuat. Dengan demikian Roh Kudus akan memberikan kekuatan bagi setiap kita untuk berani memberitakan Injil kepada semua orang yang belum mengenalNya dan merasakan kasihNya.